Temulawak untuk Osteoporosis

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) untuk Osteoporosis, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) terhadap Kepadatan Tulang pada Tikus Ovariektomi: Studi Eksperimental

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan
    Sampel:
    30 ekor tikus betina Sprague-Dawley yang diovariektomi, dibagi menjadi 3 kelompok (kontrol, dosis rendah, dosis tinggi)
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol temulawak dosis 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB per oral, diberikan selama 8 minggu.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak temulawak dosis tinggi (200 mg/kgBB/hari) selama 8 minggu secara signifikan meningkatkan kepadatan mineral tulang femur dan menurunkan kadar penanda resorpsi tulang (CTX-1) dibandingkan kelompok kontrol. Temulawak berpotensi mencegah osteoporosis pasca-menopause melalui mekanisme anti-inflamasi dan anti-oksidan.
  2. Peran Xanthorrhizol dalam Menghambat Diferensiasi Osteoklas dan Mencegah Resorpsi Tulang: Studi In Vitro

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi In Vitro
    Sampel:
    Kultur sel osteoklas prekursor dari sumsum tulang tikus (RAW 264.7) dan sel osteoblas MC3T3-E1
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi xanthorrhizol 1-10 µM selama 5-7 hari kultur.
    Temuan:
    Xanthorrhizol, senyawa aktif utama temulawak, menghambat diferensiasi osteoklas yang diinduksi RANKL dengan menekan aktivitas NF-κB dan MAPK. Selain itu, xanthorrhizol juga merangsang proliferasi dan mineralisasi osteoblas, menunjukkan efek dual dalam remodeling tulang.
  3. Uji Klinis Acak Terkontrol: Suplementasi Ekstrak Temulawak pada Wanita Pasca-Menopause dengan Osteopenia

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    RCT (Uji Klinis Acak Terkontrol)
    Sampel:
    60 wanita pasca-menopause (usia 50-65 tahun) dengan osteopenia, dibagi menjadi kelompok plasebo dan kelompok ekstrak temulawak
    Dosis/Durasi:
    Kapsul ekstrak temulawak setara dengan 300 mg kurkuminoid total per hari, selama 12 bulan.
    Temuan:
    Suplementasi ekstrak temulawak (300 mg/hari) selama 12 bulan secara signifikan meningkatkan skor T-score tulang lumbal dan menurunkan kadar serum TNF-α dan IL-6 dibandingkan plasebo. Temulawak efektif sebagai agen adjuvan dalam manajemen osteopenia.
  4. Meta-Analisis: Efek Kurkuminoid (dari Curcuma spp.) terhadap Kepadatan Mineral Tulang pada Model Osteoporosis

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    15 studi (hewan dan manusia) dengan total 1.200 subjek; termasuk studi pada Curcuma xanthorrhiza
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi, dengan rentang dosis 100-500 mg/hari dan durasi 8-24 minggu.
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan bahwa kurkuminoid secara signifikan meningkatkan kepadatan mineral tulang (SMD=0,85, p<0,001) dan menurunkan kadar bone turnover marker (CTX-1, NTX). Efek lebih kuat pada dosis >200 mg/hari dan durasi >12 minggu, terutama pada model osteoporosis pasca-menopause.
  5. Pengaruh Ekstrak Temulawak terhadap Ekspresi Gen Osteoblas dan Osteoklas pada Tikus Osteoporosis yang Diinduksi Glukokortikoid

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan
    Sampel:
    40 ekor tikus jantan Wistar yang diinduksi osteoporosis dengan deksametason, dibagi 4 kelompok (kontrol, dosis rendah, sedang, tinggi)
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak air temulawak dosis 75, 150, dan 300 mg/kgBB per oral selama 6 minggu.
    Temuan:
    Ekstrak temulawak dosis 150 mg/kgBB meningkatkan ekspresi gen Runx2 dan osteokalsin (osteoblas) serta menekan RANKL (osteoklas) secara signifikan. Temulawak memperbaiki mikroarsitektur tulang trabekular dan mencegah kehilangan tulang akibat glukokortikoid.
  6. Systematic Review: Potensi Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) sebagai Anti-Osteoporosis melalui Jalur Inflamasi dan Oksidatif

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    25 artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi (studi in vitro, hewan, dan manusia) hingga tahun 2021
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi; dosis efektif pada hewan berkisar 100-300 mg/kgBB, pada manusia 200-500 mg/hari ekstrak.
    Temuan:
    Review sistematis menyimpulkan bahwa temulawak dan senyawa aktifnya (xanthorrhizol, kurkuminoid) bekerja melalui penghambatan NF-κB, penurunan ROS, dan modulasi sitokin pro-inflamasi. Bukti saat ini mendukung penggunaan temulawak sebagai terapi komplementer osteoporosis, namun diperlukan lebih banyak uji klinis berkualitas tinggi.


Cari: